Humas MAN Lima Puluh Kota, 7 September 2026 — Kabut yang mulai menebal menyelimuti halaman MAN Lima Puluh Kota pada Senin pagi (7/9/2026). Namun, suasana berkabut tersebut tidak sedikit pun menyurutkan semangat para peserta dan petugas upacara. Dengan penuh khidmat dan tertib, seluruh rangkaian upacara bendera tetap berlangsung lancar dari awal hingga akhir. Upacara kali ini terasa istimewa karena seluruh petugas berasal dari Dewan Ambalan Pramuka MAN Lima Puluh Kota. Bertindak sebagai pembina upacara, Waka Humas MAN Lima Puluh Kota, Hj. Ernawati, S.S., M.Pd., menyampaikan amanat yang mengangkat tema “HEBAT TANPA MENJATUHKAN”.
Mengawali amanatnya, Hj.Ernawati mengajak peserta upacara melakukan refleksi sederhana melalui sejumlah pertanyaan: “Pernahkah kalian menertawakan teman? Pernahkah memberi nama panggilan yang tidak disukai? Pernahkah melihat teman diejek lalu ikut tertawa? Atau mengatakan ‘cuma bercanda’ ketika teman ternyata tersinggung?” Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengingatkan siswa bahwa bullying atau perundungan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Ejekan, pemberian julukan yang menyakitkan, mempermalukan teman, mengucilkan, menyebarkan foto atau video untuk bahan tertawaan, hingga komentar merendahkan di media sosial juga merupakan bentuk perundungan.
Ia menegaskan bahwa menjadi penonton pun bukan pilihan yang tepat. Ketika melihat teman dirundung, siswa diharapkan tidak ikut tertawa, merekam, ataupun menyebarkan kejadian tersebut. Sebaliknya, siswa diajak berani menghentikan tindakan yang salah dengan cara yang bijak dan melaporkannya kepada guru atau pihak madrasah apabila diperlukan. Dalam amanatnya, Ernawati memperkenalkan makna HEBAT sebagai karakter yang harus tumbuh dalam diri siswa madrasah: Hormat, Empati, Bertanggung jawab, Amanah, dan Tulus. Menurutnya, hebat bukan hanya tentang nilai tinggi, banyak prestasi, atau menjadi juara, tetapi tentang kemampuan memperlakukan orang lain dengan baik.
“HEBAT adalah ketika kita mampu menjadi baik meskipun punya kesempatan untuk menyakiti. HEBAT adalah ketika kita mampu mengangkat orang lain tanpa merasa diri kita menjadi lebih rendah,” pesannya. Ia juga mengingatkan bahwa identitas sebagai siswa madrasah harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Seragam madrasah bukan sekadar pakaian, tetapi membawa nama dan citra madrasah. Karena itu, ilmu dan ibadah harus berjalan seiring dengan akhlak. Menutup amanatnya, Ernawati mengajak seluruh siswa membangun budaya madrasah yang aman, nyaman, saling menghargai, dan bebas dari bullying.
“Jangan gunakan kelebihan kita untuk merendahkan orang lain. Gunakan kelebihan kita untuk mengangkat orang lain,” tegasnya.Ia kemudian mengajak siswa mengingat satu pesan sederhana: prestasi membuat kita dikenal, karakter membuat kita dihormati, dan akhlak membuat kita bernilai di hadapan Allah. Dengan semangat tersebut, seluruh keluarga besar MAN Lima Puluh Kota diharapkan terus membangun madrasah yang bukan hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kuat dalam karakter dan akhlak—HEBAT DALAM PRESTASI, HEBAT DALAM AKHLAK, HEBAT TANPA BULLYING, DAN HEBAT DENGAN SALING MENGUATKAN.
Ernawati dan Tim Humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *