Humas MAN Lima Puluh Kota, 30 September 2026 — Musala MAN Lima Puluh Kota dipenuhi suasana hening dan penuh perhatian pada Rabu (30/9). Siswa kelas X, XI, dan XII bersama majelis guru ba’da Zuhur mengikuti kegiatan nonton bareng film dokumenter G30S/PKI sebagai bagian dari pembelajaran sejarah dan refleksi kebangsaan. Ratusan siswa duduk tertib menyaksikan tayangan yang mengangkat peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan dinamika politik yang menyertainya. Sesekali tampak siswa mencatat bagian-bagian penting dari tayangan. Keseriusan mereka menunjukkan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan kesempatan untuk mengenal dan memahami salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Sebelum film diputar, Waka Humas MAN Lima Puluh Kota, Ernawati, S.S., M.Pd., memberikan pengantar kepada para siswa. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak cukup hanya ditonton atau dihafalkan, tetapi perlu dipahami dan dijadikan bahan renungan. “Belajar dari sejarah, mari kita mengambil hikmah dan menjaga persatuan. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kita bisa mengambil hikmah dari film dokumenter ini sebagai bagian dari perjalanan bangsa kita, agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang semakin menghargai para pahlawannya dan mencintai perdamaian,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengantar bagi siswa untuk menyaksikan film dengan sikap kritis dan penuh kesadaran. Para siswa juga diarahkan untuk memahami bahwa perjalanan sejarah bangsa mengandung berbagai pelajaran tentang pentingnya persatuan, kewaspadaan terhadap konflik, serta menjaga kehidupan yang damai. Menariknya, kegiatan nonton bareng ini tidak berhenti setelah layar ditutup. Setiap siswa mendapatkan tugas untuk membuat resume film yang telah disaksikan. Resume dikumpulkan melalui wali kelas masing-masing dan selanjutnya menjadi bagian dari penilaian oleh guru mata pelajaran Sejarah dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn).
Dengan tugas tersebut, siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dituntut untuk mengolah informasi, menangkap pesan penting, menyusun kembali peristiwa yang dipelajari, serta menyampaikan pemahamannya melalui tulisan. Kepala MAN Lima Puluh Kota, H. Nur Ali, S.Ag., M.M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya madrasah dalam menumbuhkan kesadaran sejarah sekaligus karakter kebangsaan peserta didik. “Kegiatan ini menjadi wadah untuk menumbuhkan kesadaran sejarah, kecintaan terhadap bangsa, serta sikap menghargai persatuan dan kedamaian. Sejarah perlu dikenang agar generasi muda memahami masa lalu, mengambil pelajaran darinya, serta berkomitmen menjaga Indonesia agar tidak kembali terjebak dalam perpecahan dan kekerasan,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar mengenang sebuah peristiwa, kegiatan ini mengajak generasi muda untuk memahami bahwa perjalanan bangsa Indonesia dibangun melalui proses panjang yang penuh dinamika. Dari sejarah, siswa dapat belajar mengenai arti penting persatuan dan bagaimana konflik serta perpecahan dapat meninggalkan luka bagi sebuah bangsa.
Bagi MAN Lima Puluh Kota, pembelajaran sejarah seperti ini menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, kuat dalam karakter, mencintai bangsa, menghargai jasa para pahlawan, serta menjunjung tinggi perdamaian. Karena pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang apa yang pernah terjadi, tetapi tentang apa yang dapat kita pelajari agar kesalahan masa lalu tidak terulang kembali. Belajar dari sejarah. Mengambil hikmah. Menjaga persatuan. Merawat Indonesia dalam bingkai perdamaian.
Ernawati dan Tim Humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *